DOA UNTUKMU
“Aku tahu kamu

“Sudahlah, usah memujiku demikian. Aku bukanlah anak yang cerdas, aku bukanlah yang terbaik, dan aku bukanlah seperti yang kau kira! Aku hanyalah anak yang beruntung dalam hal itu. Masalah kelanjutan studiku, aku tak seberuntung kamu dan teman-teman. Segala hasrat dan citaku telah melebur, aku tak tahu harus berbuat apa selain mengikuti saran dan nasehat dari beliau.”
“Kurasa tidak demikian. Apa yang telah kamu raih selama ini adalah buah dari perjuanganmu. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan, No Gains Without Pains, motto hidupmu yang selalu ku ingat,” jelasku. “Hmm… apa benar orang tuamu tidak memberi restu?”
Dia tertunduk lesu, seolah sedang memikirkan sesuatu dan meratapi hal yang tidak dikehendaki. Dengan nada lirih dia menjawabnya. “Ya, kamu benar. Beliau telah memikirkannya matang-matang. Mungkin ini yang terbaik. Kupikir aku tidak harus menuntut ilmu di sekolah yang elite dan fantastic masalah biaya operasionalnya, sekolah yang pada hakikatnya diperuntukkan bagi putra-putri terbaik di kota kita, seperti kata orang-orang. Ini adalah jalan hidupku. Takdir berkata demikian. Jalan menuju surga kesuksesan amatlah banyak. Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi hambanya,” tandas dia.
Belum sempat aku menanggapinya, dia mengambil buku ber-cover cokelat, berjudul “Gres” dari tasnya, bergegas menghampiri Santi. Perpustakaan sekolahlah yang mereka tuju. Hampir setiap jam istirahat dia ke perpustakaan untuk meminjam buku-buku atau sekedar membaca-baca. Maklumlah, mereka adalah kutu buku yang siap memangsa sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan dan informasi dimana ada kesempatan. Berusaha menggali dan menilik lebih dalam serta memperluas wawasan melalui buku sebagai jendela dunia.
Lamunanku terbuyar ketika Amir menepuk punggungku dan mengajakku kembali ke kelas. Saat itu mataku terpaku pada sebuah karikatur di dinding perpustakaan.
Aku sedang teringat pada sahabat SMP-ku yang paling berkesan. Dia begitu prasaja, ulet, dan rajin. Dia adalah bintang kelas yang generalis.
Kuperhatikan dan kudengarkan penjelasan materi “Gerunds and Infinitives” yang disampaikan Mr. Roy. Tapi, tak ada satu pun yang aku maksud dari penjelasan beliau. Dia masih ada dalam otakku. Mengingatkanku lebih jauh tentang dirinya. Seperti tentang surat yang dia layangkan dulu, saat membalas surat ucapan selamat ulang tahunnya dari aku. Dalam surat itu dia share akan keinginannya yang menggebu-gebu untuk study di State Senior High School 1 Kebumen.
Ismi, gadis berambut ikal dan sedikit pirang -berusaha menggapai mimpi dengan kesederhanaan- memang sudah ditakdirkan jalan hidupnya demikian. Dia mau tidak mau harus mengenakan identity uniform baju warna biru muda dan rok warna biru tua. Tidak demikian yang dia ingin, berbaju coklat muda dan rok coklat tua.
Yang jelas, kisah Ismi tidak seperti cerita romance Siti Nurbaya yang dipaksa kawin orang tuanya. Sikap konservatif seperti itu sudah tidak berlaku lagi di zaman modern seperti sekarang.
“Semoga saja setiap asa dan citamu tercapai kelak. Apapun yang terjadi sekarang hanyalah serentetan perjalanan hidup menuju gerbang kesuksesan. So, janganlah menjadi fatalis, orang yang pasrah terhadap nasib,” doa dan pesan untukmu sahabat! (By: FH)
2 komentar:
Wah....adek saya yang satu ini hebat yah? hehe,....mba bangga dek... Semangat! Lanjutkan yah!!^_^sheyer
Semangat!! lanjutkan dek!! ^_^
Posting Komentar